Sabtu, 17 Maret 2012
ISTILAH SALAFY DAN SALAFIYAH
Istilah Salafy atau Salafiyah bagi sebagian orang sudah dianggap cukup sebagai identitas komunitas, tetapi kenyataannya banyak pihak yang mengklaim istilah itu, sedang mereka saling berselisih satu sama lain. Jika Salafiyah dalam istilah yang berlaku dikalangan NU, sejak kecil penulis sudah mengetahui, sebab dibesarkan dalam lingkungan yang kental bertradisi NU. Salafiyah yang benar ialah yang merujuk kepada Para Sahabat, Tabi’in, dan Tabi’it Tabi’in Radhiyallahu ‘Anhum. Sebagaimana firman Allah, “Dan orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama (masuk islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengkuti mereka dengan baik, Allah akan ridha kepada mereka dan mereka pun (juga) ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan untuk mereka syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal didalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah :100) Mereka juga disebut sebagai Khairu Ummah (Sebaik-baik Umat), “Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan di tengah-tengah manusia.” (QS. Al-Imran ; 110)
Adapun Salafiyah menurut NU umumnya didefinisikan sebagai, “Fikihnya ikut Imam Syafi’i, (meskipun NU mengakui empat madzhab yaitu Syafi’i, Hanafi, Maliki dan Hambali), akidahnya ikut Imam Abu Hasan Al-Asy’ary dan Abu Manshur Al-Maturidi, dan tasawufnya ikut Imam Al-Ghozali.”
Sebagian orang berkata, “Ana Salafy” (Aku ini Salafy), sebagian yang lain juga mengatakan kalimat yang sama, tetapi dalam pergaulan mereka saling bermusuhan (meskipun belum sampai bermusuhan fisik). Orang-orang yang melihat kenyataan ini pun menjadi heran, maka bertanya-tanya, “Lalu siapakah sebenarnya Salafy?” Begitu pertanyaan selesai diucapkan, pihak-pihak yang berselisih itu seketika menjawab dengan tegas, “Kami Salafy, sedang mereka bukan!”
Dengan realita perpecahan seperti diatas tidak mungkin jika kita hanya menggunakan istilah Salafy, sebab komunitas-komunitas Salafy itu ternyata berbeda-beda pandangan dan pendiriannya. Begitu pula tidak mungkin kita keluarkan mereka semua dari Salafiyah, sebab mereka memang mengikuti ajaran-ajaran Salafush Shalih. Paham Salafiyah masuk ke Indonesia bermacam-macam warnanya. Warna yang paling asli ialah dakwah Imam Muhammad bin Abdul Wahab yang dibawa oleh ulama-ulama Sumatera Barat pada awal abad ke-19. Di era moderen, Salafiyah masuk melalui beberapa jalur, antara lain melalui buku-buku, media, proses pendidikan, kerjasama kelembagaan, dan jalur gerakan dakwah Salafiyah. Jalur buku berupa buku asli (berbahasa Arab), juga berupa terjemahan dari kalangan ulama-ulam Timur Tengah. Jalur media melalui majalah, buletin, internet, kaset-kaset, VCD dll. Jalur pendidikan berupa pengiriman pemuda-pemuda yang dikirim untuk belajar di Timur Tengah. Kerjasama kelembagaan berupa bantuan buku-buku dan fasilitas belajar, pembangunan perpustakaan, masjid dll. Dan jalur gerakan dakwah Salafiyah berupa pendidikan kader da’i, pembukaan majlis-majlis taklim dll.
Selama ini muncul kesan kuat komunitas Salafiyah di Indonesia terpecah dalam dua kelompok besar yang satu sama lain saling “bermusuhan”. Satu kelompok biasa disebut Salafy Yamani yang merupakan jaringan para da’i Salafy yang merujuk kepada syaikh-syaikh Salafy di Yaman dan Timur Tengah. Sedang satu kelompok lagi ialah Salafy Haraki, yaitu dakwah Salafiyah yang menerapkan sistem pergerakan (Harakah).
Kedua kelompok di atas sama-sama Salafy tetapi uniknya keduanya mempunyai perbedaan-perbedaan significant dalam pemikiran dan perilaku dakwahnya, sehingga keduanya tidak mungkin disatukan dalam satu sebutan. Pasalnya, Salafy Yamani sangat menolak metode pergerakan (harakiyyah), sebab hal itu dianggap sebagai bid’ah dan merupakan praktek fanatisme (hizbiyyah). Sedang Salafy haraki membutuhkan sistem untuk membina dakwah di tengah berbagai fitnah kehidupan di jaman moderen. Di kalangan Salafy Yamani ada istilah yang dipakai menyebut Salafy haraki dengan nama Sururi atau Sururiyah. Karena tokoh perintis paham ini bernama Muhammad Surur bin Nayef Zainal Abidin. Adapun Salafy Yamani sendiri sebagai tokohnya ialah Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali dari Makkah dan Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i dari Yaman. Perselisihan antara kelompok Salafy Yamani dengan haraki sangat tajam. Pihak Yamani menyebut haraki sebagai ahlul bid’ah sehingga berhak merendahkan serendah-rendahnya, begitu juga sebaliknya.
Hal itu diperparah dengan sebab perbedaan pemahaman dijadikannya alat untuk saling menjatuhkan, menghakimi, mengingkari, menjauhi, memusuhi (sekalipun bukan permusuhan fisik) bahkan terkadang saling mengkafirkan satu sama lain. Suasana seperti ini jelas menguntungkan musuh-musuh islam yang menghendaki adanya perpecahan dan permusuhan. Sedang umat islam tidak adar bahwa telah dirugikan oleh ulahnya sendiri.
Singkatnya, jadikanlah ilmu, iman dan amal sebagai tolak ukur dalam meraih keridhoan Allah SWT. Jauhkan perselisihan dengan alasan perbedaan, dan jadikanlah itu sebagai rahmat. Karena misi islam adalah menyebar kasih sayang bagi seluruh alam. Wallahu A’lam
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar